Rabu, 25 Maret 2015

        I.            TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah membuat kurva kelarutan suatu cairan yang terdapat dalam dua cairan tertentu.
     II.            DASAR TEORI
Sistem merupakan suatu zat yang dapat diisolasikan dari zat – zat lain dalam suatu bejana inert, yang menjadi pusat perhatian dalam mengamati pengaruh perubahan temperatur, tekanan serta konsentrasi zat tersebut. Sedangkan komponen adalah yang ada dalam sistem. Banyaknya komponen dalam sistem adalah jumlah minimum dari spesies bebas yang diperlukan untuk menentukan komposisi semua fase yang ada dalam sistem. Fasa adalah bagian sistem dengan komposisi kimia dan sifat – sifat fisik seragam, yang terpisah dari bagian sistem lain oleh suatu bidang batas. Pada tahun 1876, Gibbs menurunkan hubungan sederhana antara jumlah fasa setimbang, jumlah komponen, dan jumlah besaran intensif bebas yang dapat melukiskan keadaan sistem secara lengkap.
Aturan fase Gibb memberikan suatu hubungan antar derajat kebebasan dalam suatu system dengan C komponen dan P fase. Hubungan tersebut dapat dinyatakan ke dalam sebuah rumus umum, yaitu:
F = C – P + 2
dimana,
F = jumlah derajat kebebasan
C = jumlah komponen
P = jumlah fasa
Di dalam buku S.Dogra rumus untuk derajat kebebasan Gibb dinyatakan ke dalam: F = C – P + 2. Menurut aturan fase, derajat kebebasan untuk system 3 komponen diberikan dengan rumus:
F = C – P + 2
    = 5 – P
Derajat kebebasan suatu sistem adalah bilangan terkecil yang menunjukkan jumlah variabel bebas (suhu, tekanan, konsentrasi komponen – komponen) yang harus diketahui untuk menggambarkan keadaan sistem.Kondisi fasa – fasa dalam sistem satu komponen digambarkan dalam diagram fasa yang merupakan plot kurva tekanan terhadap suhu.Kesetimbangan dipengaruhi oleh suhu, tekanan, dan komposisi sistem. Jumlah derajat kebebasan untuk sistem tiga komponen pada suhu dan tekanan tetap dapat dinyatakan sebagai :
F = 3 – P
Jika dalam sistem hanya terdapat satu fasa maka F = 2 berarti untuk menyatakan suatu sistem dengan tepat perlu ditentukan konsentrasi dari dua komponennya. Sedangkan bila dalam sistem terdapat dua fasa dalam kesetimbangan, F = 1; berarti hanya satu komponen yang harus ditentukan konsentrasinya dan konsentrasi komponen yang lain sudah tertentu berdasarkan diagram fasa untuk diagram fasa untuk sistem tersebut. Oleh karena itu sistem tiga komponen pada suhu dan tekanan tetap punya derajat kebebasan maksimum = 2 (jumlah fasa minimum = 1), maka diagram fasa sistem ini dapat digambarkan dalam satu bidang datar berupa suatu segitiga yang dapat menggambarkan suatu komponen murni.
Konsentrasi dapat dinyatakan dengan istilah persen berat atau fraksi mol. Fraksi mol tiga komponen dari sistem terner (C = 3) sesuai dengan: XA + XB + XC = 1. Konsentrasi dapat dinyatakan dalam istilah % berat atau fraksi mol. sistem tiga komponen pada temperatur dan tekanan tetap mempunyai jumlah derajat kebebasan paling banyak.Jumlah fasa dalam sistem zat cair tiga komponen bergantung pada daya saling larut antar zat cair tersebut dan temperatur.Dalam eksperimen ini, metode titrasi digunakan untuk memisahkan campuran yang terdiri dari dua cairan yang saling melarut sempurna.
Jumlah fasa dalam sistem zat cair tiga komponen bergantung pada daya saing larut antara zat cair tersebut dan suhu percobaan. Apabila pada suhu dan tekanan yang tetap digunakan kurva binodal untuk menentukan kelarutan C dalam berbagai komposisi A dan B. Untuk menentukan kurva bimodal yaitu dengan menambahkan zat B ke dalam campuran A dan C. Titik dimana terjadi kesetimbangan antara wujud satu fasa dengan dua fasa dari campuran ketiga komponen tersebut, apabila dihubungkan akan membentuk suatu diagram yang menunjukkan batas-batas antara daerah (region) satu fasa dengan daerah (region) dua fasa. Oleh karena itu sistem tiga komponen pada suhu dan tekanan tetap punya derajat kebebasan maksimum = 2 (jumlah fasa minimum = 1), maka diagram fasa sistem ini dapat digambarkan dalam satu bidang datar berupa suatu segitiga tersebut menggambarkan suatu komponen murni.

C
                                                       x
                                                                                   P
                                                                                  
                                                                                         z

                             A (y)                                                        B

Titik A, B dan C menyatakan kompoenen murni. Titik-titik pada sisi Ab, BC dan Ac menyatakan fraksi dari dua komponen, sedangkan titik didalam segitiga menyatakan fraksi dari tiga komponen. Titik P menyatakan suatu campuran dengan fraksi dari A, B dan C masing-masing sebanyak x, y dan z. Titik X menyatakan suatu campuran dengan fraksi A = 25%, B = 25%, dan C = 50%. Titik-titik pada garis BP dan BQ menyatakan campuran dengan perbandingan dengan jumlah A dan C yang tetap, tetapi dengan jumlah B yang berubah. Hal yang sama berlaku bagi garis-garis yang ditarik dari salah satu sudut segitiga kesisi yang ada dihadapannya. Daerah didalam lengkungan
Merupakan daerah dua fasa. Salah satu cara untuk menentukan garis binoidal atau kurva kelarutan ini ialah dengan cara menambah zat B ke dalam berbagai komposisi campuran A dan C. Titik-titik pada lengkungan menggambarkan komposisi sistem pada saat terjadi perubahan dari jernih menjadi keruh. Kekeruhan timbul karena larutan tiga komponen yang homogen pecah menjadi dua larutan konjugat terner.

  III.            CARA KERJA

3.1  Alat dan Bahan
3.1.1        Alat
Adapun alat alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah
1.      Labu tertutup 100 ml    9 buah
2.      Gelas piala 250 ml        3 buah
3.      Buret 50 ml                   3 buah
4.      Statif dan klem                         3 buah
5.      Corong                         3 buah
6.      Neraca piknometer
7.      Labu remprot
8.      Terometer

3.1.2        Bahan
                        Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah
1.      Etanol (larutan A)
2.      Heksana (Larutan B)
3.      Aquades (LarutanC)

  IV.            CARA KERJA

1.      Dalam labu erlenmeyer yang bersi, kering dan tertutup, buatlah 9 macam lcampuran cairan A dan C yang saling larut sempurna dengan komposisi sebagai berikut :
Labu 1 2          3          4          5          6          7          8          9 (ml)
A 2      4          6          8          10        12        14        16        18 (ml)
C 18    16        14        12        10        8          6          4          2 (ml)
Semua pengukuran dilakukan dengan buret
2.      Titrasi tiap campuran dalam labu  1  s/d  9  dengan zat B sampai tepat timbul kekeruhan, dan catat julah volume zat B yang digunakan. Lakukan titrasi dengan perlahan lahan
3.      Tentukan masa jenis  masing masing cairan murni A,B, dan C
4.      Catat suhu kamar sebelum dan sesudah percobaan.





     V.            DATA HASIL PENGAMATAN
Tabel 5.1
Labu (mL)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
A
2
4
6
8
10
12
14
16
18
C
18
16
14
12
10
8
6
4
2
B
8,7
2
3,4
3,6
3
4,3
3
2,4
3,8

Tabel 5.2
Larutan
Labu
A
B
C
na
xi
nb
xi
nc
xi
1
2

8,7

18

2
4

2

16

3
6

3,4

14

4
8

3,6

12

5
10

3

10

6
12

4,3

8

7
14

3

6

8
16

2,4

4

9
18

3,8

2





  VI.            HASIL PERHITUNGAN
 belum dapat sobat


VII.            HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada praktikum ini dilakukan percobaan mengenai sistem zat cair tiga komponen. Praktikum ini bertujuan untuk membuat kurva kelarutan suatu cairan yang terdapat dalam campuran dua zat cair tertentu. Prinsip dasar dari praktikum ini adalah pemisahan suatu campuran dengan ekstraksi yang terdiri dari dua komponen cair yang saling larut dengan sempurna. Pemisahan dapat dilakukan dengan menggunakan pelarut yang tidak larut dengan sempurna terhadap campuran, tetapi dapat melarutkan salah satu komponen (solute) dalam campuran tersebut. Cairan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air, etanol dan heksana.
Dalam system tiga komponen digunakan tiga jenis larutan yang mempunyai sifat yang berbeda-beda, air (polar), etanol (nonpolar), dan heksana yang bersifat semipolar. Penggunaan ketiga zat ini karena hanya akan bercampur sebagian (menurut teori) sehingga digunakan bahan ini untuk membuktikan teori tersebut. heksana sebagai zat B, air sebagai zat C, sedangkan etanol digunakan sebagai titran (zat A).Penambahan air dilakukan dengan menggunakan buret agar dapat dilakukan dengan teliti. Setelah larutan dicampur terbentuk dua lapisan yaitu heksana yang sifatnya semipolar pada bagian atas karena memiliki massa jenis yang lebih rendah (1,05 g/mL) sedangkan etanol yang bersifat nonpolar berada pada bagian bawah karena massa jenisnya lebih besar dari air. Campuran ini kemudian dititrasi dengan air agar larutan ini menjadi satu fasa, karena air  bersifat polar sehingga dapat mencampurkan dua jenis larutan yang berbeda sifat menjadi satu fasa. Titrasi dihentikan saat larutan telah menjadi keruh dan membentuk dua lapisan gelembung minyak.
 Volume yang digunakan untuk membuat larutan menjadi keruh itulah banyaknya larutan etanol yang dapat larut dalam air dan heksana. Untuk titrasi ini dilakukan dengan sembilan buah labu erlenmeyer dimana masing masing labu dimasukkan air dan heksana dengan fraksi mol yang berbeda, fraksi mol heksana meningkat dengan naiknya nomor labu erlenmeyer, sedangkan fraksi mol air turun dengan naiknya nomor labu erlenmeyer. Dari percobaan didapat bahwa untuk mengeruhkan larutan heksana diperlukan etanol makin banyak dengan naiknya nomor labu erlenmeyer. Metode titrasi ini dapat digunakan untuk memisahkan campuran yang terdiri dari dua cairan yang saling melarut sempurna yaitu air dan heksana dititrasi dengan zat yang tidak larut dengan campuran tersebut yaitu etanol. Dari percobaan yang dilakukan proses percampuran tiga komponen terjadi pada suhu konstan, suhu awal dan suhu akhir pada kedua tahap percobaan tidak mengalami perubahandan tetap pada suhu 25oC ini membuktikan bahwa sistem tiga komponen terjadi padatemperatur dan tekanan tetap. Dari perhitungan dapat disimpulkan bahwa etanol lebih banyak larut dalam heksana,karena banyaknya etanol yang dibutuhkan untuk mengeruhkan larutan titer sebanding dengan banyaknya heksana yang terdapat dalamlarutan titer sehingga berdasarkan data yang diperoleh dapat diketahui bahwa harga fraksi mol rata-rata untuk zat A (etanol) adalah sebesar 23,44; zat B (heksana) sebesar 21,90; zat C (air) sebesar 24,95 sehingga dapat  dibuat diagram fasa sistem untuk  masing – masing praktikum yang digambarkan dalam satu bidang datar berupa suatu segitiga sama sisi yang disebut diagram terner.

VIII.            KESIMPULAN DAN SARAN

8.1  Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilaksanakan, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.      Siagram fasa sistem zat cair tiga komponen dapat digambarkan dalam satu bidang datar berupa suatu segitiga yang dapat menggambarkan suatu komponen murni.
2.      Semakin banyak jumlah volume zat A yang digunakan, maka semakin sedikit jumlah volume dari zat B yang diperlukan untuk mentitrasi campuran antara zat A dan zat C tercapai kesetimbangannya.
3.      Kesetimbangan dipengaruhi oleh suhu, tekanan, dan komposisi sistem. Jumlah derajat kebebasan untuk sistem tiga komponen pada suhu dan tekanan tetap.

8.2  Saran
Saran yang dapat disampaikan pratikan yaitu ,





  IX.            DAFTAR PUSTAKA
Khairiah, Hanifah. 2015. Modul Praktikum Kimia Fisika,Politeknik Kampar,Bangkinang.
di akses 24 maret 2015

di akses 24 maret 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar